皇雄痔
2019-05-23 14:07:01
2017年1月5日下午1:05发布
2017年1月5日下午1:05更新

PELANTIKAN。 Gatot Nurmantyo ketika dilantik sebagai Panglima TNI pada 8 Juli 2015. Foto oleh Gatta Dewabrata / Rappler

PELANTIKAN。 Gatot Nurmantyo ketika dilantik sebagai Panglima TNI pada 8 Juli 2015. Foto oleh Gatta Dewabrata / Rappler

雅加达,印度尼西亚(更新) - Panglima TNI Gatot Nurmantyo menepis pernyataan yang menyebut dirinya tidak berkoordinasi terlebih dahulu dengan Presiden Joko“Jokowi”Widodo sebelum mengambil keputusan untuk menunda sementara kerjasama militer dengan Australia。 Secara struktural Presiden Jokowi merupakan panglima militer tertinggi di Indonesia。

“Beliau juga adalah atasan saya。 Setiap langkah dan keputusan saya,pasti akan saya laporkan ke Presiden,“ujar Gatot kepada Rappler melalui telepon pada Kamis,5 Januari。

Mungkin informasi itu,Gatot melanjutkan,tidak diketahui oleh juru bicara Presiden,Johan Budi。 Koordinasi juga dilakukan antara TNI dengan Kementerian Luar Negeri yang menjadi garda terdepan untuk mengkomunikasikan itu dengan Australia。 Gatot menyebut dia juga sudah berkomunikasi dengan mitranya,Panglima Militer Australia,Marsekal Mark Binskin。

Lalu,apa Respons Presiden Jokowi terhadap keputusan TNI? Gatot mengatakan pada dasarnya mantan Gubernur DKI itu mendukungnya。

“Presiden selalu mendukung keputusan TNI yang menyangkut kedaulatan Indonesia dan kehormatan bangsa,”tutur dia。

Gatot langsung menarik perwira yang mengajar di Barak Campbell,Perth,ketika ditemukan materi pengajaran yang dianggap menyinggung TNI dan Pancasila。

“Laksamana Binskin sudah pernah mengirimkan surat kepada saya pada bulan Desember yang intinya meminta maaf atas peristiwa tersebut。 Dia juga berjanji akan melakukan investigasi terhadap kejadian itu,“kata Gatot。

Semula,Binskin berniat untuk bertemu Gatot dan Kepala Staf Angkatan Darat di Jakarta。 Tetapi,menurut Gatot hal tersebut tidak perlu dilakukan。

“Saya katakan lakukan saja investigasi internal untuk mencari tahu penyebab hal tersebut bisa terjadi,”katanya。

Sejauh ini,kerjasama yang dihentikan sementara waktu adalah pengajaran Bahasa Indonesia untuk kalangan militer Australia。 Sementara,kerjasama lainnya tengah dievaluasi。

Bisa diputuskan langsung

Sementara,Wakil Ketua Komisi I DPR,Tantowi Yahya menilai keputusan yang diambil oleh Panglima TNI sudah tepat。 Lagipula jika penyebab menangguhkan kerjasama militer karena adanya penghinaan kepada Pancasila,maka Gatot bisa mengambil keputusan secara langsung tanpa perlu berdiskusi dengan Presiden dan DPR。

“Karena toh pasti akan disetujui oleh Presiden dan DPR,”ujar Tantowi yang dihubungi Rappler melalui pesan pendek pada Kamis,5 Januari。

Tetap berkomitmen perbaiki hubungan

Kendati kerjasama militer kedua negara kembali mengalami kemunduran,tetapi baik Australia dan Indonesia memiliki komitmen untuk memperbaiki hubungan。 Hal itu terlihat dari pernyataan kedua Menteri Pertahanan。 Menhan Australia,Marise Payne mengakui sudah tahu soal adanya keberatan dari seorang personil TNI terkait materi dan pernyataan di fasilitas pengajaran bahasa di Perth。

“Militer Australia telah melakukan penyelidikan secara serius mengenai keberatan yang disampaikan(oleh pihak Indonesia).Saat ini penyelidikan tengah diselesaikan,”ujar Payne melalui keterangan tertulis pada Rabu,4 Januari。

Karena adanya pernyataan dari pihak Indonesia,bahwa kerja sama militer kedua negara dihentikan sementara,maka berpengaruh kepada kegiatan militer lainnya。 Kegiatan baru akan dilanjutkan,jika permasalahan ini telah dituntaskan。

“澳大利亚tetap berkomitmen untuk membangun hubungan pertahanan yang kuat dengan Indonesia,termasuk dalam pelatihan bersama,”kata Payne lagi。

Sementara,Menhan Ryamizard tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan sebelum mengetahui duduk permasalahan yang sebenarnya。

“Lagipula hubungan Indonesia dengan Australia dalam keadaan baik-baik saja ya.Kami lihat dulu,jangan langsung gegabah.Ditunda pun(kerjasama militer)juga enggak apa-apa,”ujar Ryamizard yang ditemui di Istana Bogor pada Rabu,4 Januari。

Menurut informasi yang didengar mantan jenderal purnawirawan itu,perwira militer澳大利亚yang diduga melakukan penghinaan sudah diberikan teguran dan dihukum oleh atasannya。 Dia pun berharap hubungan kedua negara jangan sampai rusak hanya karena ulah perwira militer。

“Jangan gara-gara curut-curut enggak jelas itu,hubungan negara enggak bagus, enggak baik juga,”katanya。 - Rappler.com