官簋
2019-05-23 09:17:01
2017年1月5日下午2点11分发布
2017年1月5日下午10:42更新

KERJASAMA MILITER。 Panglima TNI,Gatot Nurmantyo(kiri)tengah bersalaman dengan Panglima Angkatan Bersenjata澳大利亚Marsekal Mark Binskin dalam pertemuan Komite Tingkat Tinggi(HLC)ke-3 tahun 2015 di Mabes Cilangkap,Jakarta Timur。 Foto diambil dari situs TNI

KERJASAMA MILITER。 Panglima TNI,Gatot Nurmantyo(kiri)tengah bersalaman dengan Panglima Angkatan Bersenjata澳大利亚Marsekal Mark Binskin dalam pertemuan Komite Tingkat Tinggi(HLC)ke-3 tahun 2015 di Mabes Cilangkap,Jakarta Timur。 Foto diambil dari situs TNI

雅加达,印度尼西亚 - Panglima TNI Gatot Nurmantyo mengungkap alasan dirinya menangguhkan kerjasama militer untuk sementara waktu dengan Australia。 Dia mengatakan seorang instruktur Kopassus yang khusus dikirim TNI ke akademi militer Australia di Perth menemukan materi dan kurikulum pengajaran yang dianggap menyinggung Indonesia dan ideologi bangsa。

“Terlalu menyakitkan(isi kurikulum dan materinya)。 Tentang tentara yang dulu(bertugas di)Timor Leste,Papua juga harus merdeka dan tentang Pancasila yang diplesetkan jadi Pancagila。 Ini sudah tidak benar,“ujar Gatot yang ditemui di Bidakara,Jakarta Selatan pada Kamis,5 Januari。

Dari situ,maka Gatot memutuskan untuk langsung memanggil pulang instruktur itu dan dihentikan pengirimannya sementara waktu。 TNI juga sudah langsung menyampaikan keberatan mereka kepada militer澳大利亚dan langsung direspons。

“Saya dengan Marsekal Mark Binskin dari Angkatan Udara bersahabat。 Akhirnya Beliau mengirim surat berisi empat hal。 Pertama permohonan maaf, kedua akan memperbaiki isi kurikulum, ketiga akan melaksanakan investigasi dan keempat akan mengirim Kepala Staf Angkatan Militer ke KASAD dan saya,“tutur Gatot menjelaskan。

Surat tersebut kata Gatot sudah dia balas yang berisi ucapan terima kasih atas respons dari Australia dan keputusan untuk menangguhkan kerjasama selama proses investigasi berlangsung。

“Kerjasama itu baru akan dilanjutkan setelah hasil investigasi rampung,”ujarnya。

Dia mengatakan kurikulum pengajaran bahasa di akademi militer sudah lama diterapkan,sehingga dia meminta untuk ada perubahan。 Gatot juga menegaskan selama proses investigasi berjalan,maka dia tidak akan berkunjung ke Negeri Kanguru。

“Jadi,jangan berbuat yang aneh-aneh,kita tunggu saja,”kata dia。

Sementara,kerjasama lainnya di bidang militer sedang dievaluasi。 Keputusan itu akan diambil sambil menanti hasil investigasi。

Dia juga menepis dianggap tidak mengkomunikasikan keputusan tersebut kepada Presiden Joko“Jokowi”Widodo。 (BACA: )

“Presiden itu atasan dan pimpinan saya。 Pasti yang saya lakukan dilaporkan kepada Beliau,“tutur dia。

Reaksi Indonesia berlebihan?

Pimpinan lembaga'智囊团'Asosiasi Pertahanan澳大利亚(ADA),Neil James menganggap reaksi印度尼西亚berlebihan terhadap temuan materi pengajaran dan kurikulum di akademi militer di Perth。 Menurutnya,materi pengajaran yang dilaporkan hanya sedikit menyinggung Pancasila。

“Apa pun bahan pengajaran itu,rakyat Indonesia meyakini itu telah menghina Pancasila。 Tetapi,ini benar-benar direspons secara berlebihan dalam sebuah hubungan kedua negara yang telah berlangsung sekitar 50 tahun,“kata James seperti dikutip media Australia, 。

Dia menambahkan penghinaan minor itu dilakukan oleh seorang personil militer dengan pangkat letnan。 Maka,dia mengaku optimistis hubungan militer kedua negara akan kembali pulih,walau butuh waktu beberapa saat。

Dia juga menilai adanya pergantian pucuk kepemimpinan di TNI ke tangan Gatot turut berkontribusi membesarnya isu tersebut。

“Jenderal Gatot Nurmantyo bukan seseorang yang pro terhadap warga Australia seperti pendahulunya dan saya pikir ini penting dalam menimbang semua penyebab permasalahan tersebut,”katanya lagi。

Sementara,mantan petinggi militer澳大利亚lainnya,市长(Purn)Jenderal Jim Molan juga memprediksi hubungan militer kedua negara akan segera pulih。 Dia menduga penyebab isu ini karena kurang pahamnya terhadap budaya masing-masing。

“Kita tidak tahu secara detail apa yang menyebabkan ini,tetapi warga Australia bisa jadi kurang peka dan tidak bersikap tidak sesuai dalam kejadian ini。 Tetapi,bisa juga warga Indonesia kelewat sensitif dan saat ini lah momen di mana kita berada,“katanya。 - Rappler.com